Tahun Baru, Semangat Baru
Seluruh penjuru dunia merayakan tahun baru Masehi. Gegap gempita, pesta pora, dan berbagai ungkapan kebahagiaan turut mengiringi penyambutan tahun baru ini. Hal ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Kenapa, apakah Islam antimodernisasi? Tentu bukan itu alasannya. Islam memberikan yang terbaik kepada umat manusia. Islam tidak membenarkan pesta-pora, tapi menganjurkan bersedekah, menyantuni fakir miskin, yatim, dan orang-orang yang membutuhkan. Islam juga tidak membenarkan berjoget ria, tapi menganjurkan umatnya untuk berzikir mengingat Allah agar hati menjadi lebih tenang.
Kebetulan pada tahun ini, tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah mendahului tahun baru Masehi, hampir berdekatan, yaitu tepatnya pada tanggal 18 Desember 2009, jatuh sebagai tanggal 1 Muharram 1431 H. Dalam perayaannya, tentu saja akan berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi. Islam mengisi tahun barunya dengan hal-hal yang penuh manfaat. Tahun baru Hijriah adalah masa merenung, syukur, dan pencanangan rencana baru untuk tahun berikutnya yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Oleh sebab itu, marilah kita isi hidup ini dengan memperbanyak amalan soleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan hanya mengharap ridho Allah SWT semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu besok pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan mati.
Yang menarik dari setiap kali kita memasuki tahun baru adalah munculnya kesadaran baru yaitu: Pertama, kesadaran bahwa usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan di akhirat masih sangat tipis, dibanding nikmat-nikmat Allah yang setiap detik selalu mengalir. Dari segi ini saja kita seharusnya merasa malu, di mana kita yang mengaku sebagai hamba Allah tetapi dalam banyak hal orientasi kita menkonsumsi nikmat-nikmat Allah dan lupa bersyukur kepadaNya, bahkan kita sering mengaktualisasaikan diri kita sebagai hamba dunia. Kita masih saja lebih banyak sibuk menginvestasi kepentingan dunia dari pada investasi untuk akhirat.
Ada satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin Khatab. Suatu hari ia pulang dari sekolah sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat dibajunya yang sudah usang. Dengan rasa kasihan, Umar sang Amirul mukminin mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan, yang isinya : “Wahai Umar, adakah engkau telah dapat memastikan akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu?”. Membaca surat itu, maka seketika itu juga Umar tersungkur menangis. Lalu beliau menasehati anaknya : “Wahai anakku, berangkatlah ke sekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karena engkau tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam. Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata. “
Selamat memulai tahun baru dan selamat membangun masa depan dengan ketakwaan dan belajar lebih keras lagi.












Berita dan Artikel