Tahun baru? Pergantian tahun? Apakah benar tahun itu adalah sang waktu? Bukankah kita tiap hari berganti waktu. Lantas ukuran apa yang dipakai? Apakah kala bumi menyelesaikan satu putaran mentari? Ataukah putaran sang bumi sendiri? Ataukah pergantian waktu itu diukur oleh kita sendiri. Setiap detik dari waktu kita, hakekatnya adalah pergantian waktu. Jadi setiap detik dapat saja kita mengalami tahun baru, tepatnya waktu baru.
Lalu apa hikmahnya? Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAAW ditanya oleh seorang sahabatnya. “Ya Rasul, siapakah manusia yang cerdas itu?”
Rasul menjawab: “Manusia yang cerdas adalah manusia yang setiap detiknya selalu mengingat akan kematian.”
Lalu Imam Ali bin Thalib mengaskan kembali tentang hubungan eksistensi manusia dengan waktu dengan mengatakan bahwa manusia yang beruntung (baca: cerdas) adalah yang segala perilaku dan produktivitas hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Wow ... jika Howard Gardner, sebagai penemu teori multiple intelligence, mendengar konsep ini tentunya tentunya menjadi sumbangsih yang berharga untuk teorinya. Jika saja Ian Marshal dan Danah Zohar, sebagai pengembang teori kecerdasan spiritual juga mengetahui konsep ini. Tentunya akan lebih fokus pada hakekat spiritual itu sendiri.
Teman-teman anggota Multiple Intelligences Community yang saya hormati, yang terus mendukung saya dalam memaknai arti sebenarnya dari kecerdasan. Saya mengucapkan selamat tahun baru Masehi 2010.
Semoga kita terus menjadi manusia yang cerdas untuk selalu mengingat akan kematian kita.
Semoga mulai hari ini tanggal 1 Januari 2010 kita mulai dengan segala pemikiran dan perbuatan yang lebih baik dari hari sebelumnya. Terus menerus sampai kematian menjemput kita. Insyaallah alam barzah kita kan tenang dan terang benderang, akhirnya kehidupan akhirat kita berhasil. (Munif Chatib).










