Sekolah Al Jannah

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
PENERIMAAN SISWA BARU SEKOLAH ALAM & SAINS AL-JANNAH TAHUN PELAJARAN 2010-2011 TELAH DIBUKA, UNTUK INFORMASI SELENGKAPNYA HUBUNGI TELP. 021-84594514, FAX. 02184594520, EMAIL : info@sekolah-aljannah.com ALAMAT : JL. JAMBORE NO 4 PONDOK RANGGON KEC. CIPAYUNG JAKARTA TIMUR

INTEGRASI ALAM DAN SAINS DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA TK

Oleh: Drs. H. Tasyrifin Karim, M.MPd. dan Alamsyah Said, M.Si*

Abstrak

Pendidikan anak usia TK merupakan fase pendidikan tahap kelanjutan ketiga, setelah pendidikan batita, balita dan PAUD. Pada usia inilah anak dimatangkan karakter kepribadiannya yang mendasari tumbuh berkembangnya aspek afektif, psikomotorik dan kognitif. Bentuk dan corak kepribadian anak ditentukan pada pendidikan selanjutnya, tergantung dari pendidikan dasarnya. Sebagai lembaga pendidikan, manajemen sekolah dan pendidik berkewajiban untuk melakukan kontrol pengelolaan pendidikan dalam melakukan integrasi alam dan sains dalam pendidikan agama Islam pada TK. Mendidik dengan konsep integrasi nila-nilai keislaman dan ilmu (alam dan sains) dapat membentuk generasi yang siap memerankan hidup, bukan sekadar siap pakai.

Kita, anak-anak kita dan generasi akan datang adalah produk dari peradaban yang kita hasilkan. Dalam rentang waktu yang bergulir, ada gerak-gerak kehidupan yang diwariskan Bumi untuk generasi yang menjalaninya. Ada harmonisasi kehidupan didalamnya. Harmonisasi kehidupan merupakan sirkulasi ritme kehidupan Bumi yang berotasi, rotasinya menghasilkan siang dan malam, terang dan gelap, pasang dan surut. Sebagaimana efek rotasi, Allah Sang Pengatur waktu, Pemilik zaman, Pengehendak semua yang dikehendakiNya, telah menciptakan mekanisme keseimbangan pada Bumi

[baca: Alam (Nature)] dan pada seluruh jenis ciptaanNya.

 

Mekanisme keseimbangan alami Bumi seperti telah memiliki SOP nya (Standar Operasional Prosedur) sendiri. Apa dan bagaimanapun keadaannya, Bumi tetap akan dapat melakukan keseimbangan menurut caranya. Ini yang disebut Sunnatullah. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh umat manusia adalah Bumi tidak membutuhkan Perawatan–karena Bumi telah memiliki mekanisme keseimbangannya – yang diperlukan adalah; cara menusia menghargai statusnya sebagai khalifah fil ardhi. Bagaimana menghargai khalifah fil ardhi manusia adalah sangat urgen untuk saat ini bahkan sampai beberapa dekade. Pada point inilah, saya memandang urgennya keintegrasian antara Islam, Alam dan Sains pada ranah edukasi.

Islam, Alam dan Sains dalam Pendidikan.

Lingkungan alam tempat kita hidup telah memberikan kita banyak imajinasi. Inspirasi penciptaan karya seni agung tercipta dari harmonisasi alam, gemercik air dipancuran memberikan efek mozart, semilir angin dan simphoni gesekan dedaunan mampu menghasilkan resonansi bunyi yang berirama. Seperti bunyi harfa dan pianika yang ditiup oleh komponis terkenal, atau seperti bunyi seruling kedamaian dihamparan sawah di tanah Priangan.

Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah yang berlokasi di kawasan Jambore, Cibubur, Jakarta Timur telah mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam konteks alam/nature dan pendukungnya; sains terapan. Fokus pendidikan pra dasar (TK) dalam ranah alam dan sains adalah pengembangan kepribadian yang “islami, cerdas, cinta alam unggul dalam sains dan teknologi”. Belajar di/dari alam memungkinkan anak bersentuhan dengan alam, sehingga anak mampu mengembangkan daya kreatifitas, nalar serta kecakapan hidup. Belajar di/dari alam memberikan kebebasan bermain pada anak, menjelajahi dan berinteraksi dengan alam merupakan modal anak untuk semangat belajar.

Integrasi Islam, Alam Dan Sains. Dimulai dari mana?

Megintegrasikan nilai-nilai Islam, Alam dan Sains sebaiknya dimulai dari jenjang pendidikan terendah, seperti PAUD (Pendidikan Anak   Usia Dini), Pra Dasar meliputi kelompok bermain atau TK A dan TK B dan seterusnya sampai menjadi karakter (pembiasaan).

Pembentukan karakter positif anak, dimulai dari niatan dan bukti nyata tingkahlaku yang konsisten dari keluarga dan pendidik. Konsistensi tingkahlaku positif yang kontinyu akan membentuk karakter atau pembiasaan. Berikut ini saya memberikan contoh kasus: “Ada kenikmatan tersendiri saat mendampingi anak belajar, terutama ketika anak ada ulangan umum disekolah. Jauh sebelum diadakannya ulangan umum aku sudah menanamkan kecintaan akan belajar pada anak pertamaku yang sekarang kelas satu di SDIT Robbani Banjarbaru. Sehingga jangan heran jika setiap harinya ia akan dengan senang dan gembira membaca kembali buku pelajaran tanpa harus disuruh-suruh. Bahkan bisa jadi hiburan pengantar tidurnya.

Aku pernah berpesan kepadanya agar ia belajar karena senang belajar. Karena Allah Swt dan Rasulullah mencintai orang-orang yang senang belajar. Bahwa dengan belajar hidupnya akan sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat”. Hikmah nyata ini ditulis oleh ibu rumah tangga; Rahmadona Fitria.

Apa yang dipetik oleh ibu Rahmadona Fitria terhadap anak sulungnya bukan datang begitu saja, melainkan diperoleh dari kontinyuitas proses pembiasaan karakter si ibu. Ini berarti, pengenalan menjadi pemicu awal untuk mengetahui dan memahami. Sebagai anak yang masih usia batita dan balita, sudah seharusnya kita berdialog dengannya dengan bahasa positif, tentunya dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang pun, adalah proses terbiyah dalam bentuk tingkah laku dari seorang Bunda atau Ayah. Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh anak (batita dan balita) akan direspon dalam memori ingatan yang kemudian tersimpan dalam otak. Manakala, kita memberikan secara konsisten dan kontinyu, maka makin tebal saraf-saraf memori ingatan si anak, sehingga suatu waktu si anak akan menggunakan kembali dan merasa bahagia dengan peristiwa tersebut. Dari sinilah program pembiasaan dapat dimulai. Program pembiasaan akan menghasilkan karakter.

Hal ini terungkap dari ilustrasi yang digambarkan oleh Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS (Sekjen Depdiknas RI), sebagai berikut:


KELUARGA


PERAN PENDIDIKAN


SEKOLAH                             LINGKUNGAN


Saya, menginterpretasikan skema tersebut adalah 100% pembentukan karakter anak dimulai dari keluarga. Ruh dan etos keluarga dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan (science and knowledge) dan lingkungan (environmental). Semakin baik nilai ke-ilmu-an dan pengetahuan serta kondusifitas lingkungan, akan semakin positif karakter yang diperoleh. Sebaliknya, semakin kurang nilai ke-ilmu-an dan pengetahuan serta keberadaan lingkungan yang tidak kondusif, akan semakin negatif karakter pembentukan yang di peroleh. Faktor keluarga dan lingkungan saling bersinergi dan saling memberikan pengaruh. Sekolah, adalah wadah formal yang memiliki sistem dan manajemen standar, tentunya sesuai dengan visi dan misi sekolah. Setiap anak didik yang masuk sekolah, apa pun latar belakang keluarga dan lingkungannya, akan tergiring oleh aturan-aturan sekolah. Tentunya, ke arah yang positif, sebagaimana tujuan pendidikan Nasional.

Sejatinya, peran keluarga amat penting dalam memulai memperkenalkan dan menginformasikan nilai-nilai Islam, Alam dan Sains kepada anak-anak balita. (cara ini dapat dilakukan dengan mendongeng atau mengkomunikasikan dalam bahasa serta tingkah laku). “Mendongeng itu adalah jantung pendidikan”, begitu komentar Evita Singgih dalam “Green Psychologi Expo 2008” di Aula Psikologi, Universitas Indonesia.

Lantas, mengapa harus Islam, Alam dan Sains? Sebagaimana pada mukadimah, kecenderungan isyu pendidikan mengalami perubahan orientasi dari humaniora ke isyu lingkungan (global warming). Dari data yang keluarkan oleh WWF bahwa laju kehilangan dan kerusakan hutan pada tahun 2000 – 2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan sepak bola/jam. Mengapa ini terjadi karena, setiap harinya sampah kertas di seluruh dunia berasal dari 27 ribu batang kayu. Setiap 1 pohon berusia 10 tahun menghasilkan 1,2 kg O2/hari. Bayangkan 27 ribu pohon per hari yang ditebang, berarti ada 32.400 kg O2 yang hilang per hari. Sementara, jumlah pertambahan penduduk dan peningkatan polusi lingkungan bergerak dengan sangat cepat. Momen inilah, mengapa pembentukan karakter nilai-nilai keislaman, alam dan sains sangat urgen untuk diajarkan dan dikenalkan kepada siswa-siswa semenjak memulai interaksi. Khususnya pada level TK.

Bagaimana Metodologi Belajar Islam, Alam dan Sains pada level TK/RA?

Kerangka dasar metodologi pendidikan harus disesuaikan dengan visi dan misi sekolah. Visi secara terminologi adalah pandangan atau orientasi tatapan jauh, Visi sebagai akhir dari pencapaian kualitas. Pada ranah pendidikan, pencapaian visi terjadi secara kontinyu dan berkesinambungan, dengan melebihi batas pandangan normal. Target jauh ini, harus memiliki lalu lintas yang telah ditetapkan (Standar Operasional Prosedur), termasuk di dalamnya teknik metodologi pengajaran yang berciri khas alam dan sains. Sementara misi, yang akan dijalankan, harus berpedoman pada bingkai kurikulum.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, bahwa kita tentu mengetahui benar bahwa ada mata pelajaran tertentu yang dianggap sulit, tidak memiliki daya tarik bagi sebagian anak didik. Matematika, sains alam, sains sosial dan bahasa inggris biasanya menjadi peringkat tertinggi dalam urusan “ditakuti dan dibenci anak”. Keresahan pendidik pemegang mata pelajaran ini bukan lagi menjadi hal yang rahasia. Kenyataannya nilai ujian keempat mata pelajaran ini sering dibawah rata-rata nilai mata pelajaran lainnya seperti kertakes, penjas dan bahasa indonesia. Lalu, bagaimana cara yang dapat kita lakukan agar santri/siswa yang kita didik tidak lagi membenci dan menakuti empat pelajaran yang sering dijadikan momok.

Alam dan sains merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, bahkan merupakan pelajaran yang paling mengasyikkan. Paling menarik, karena kita sebenarnya belajar mengenai diri kita sendiri. Alam dan sains seyogyanya tidak diajarkan kepada siswa sebagai suatu materi pelajaran yang langsung jadi, yang harus dihafalkan oleh anak. Alam dan sains sebaiknya dipelajari melalui suatu proses penemuan, proses belajar sendiri dari alam sebagai objek yang dipelajari (natural of laboratory). Dalam belajar alam dan sains, merupakan media atau sumber pengetahuan. Proses pembentukan pengetahuan ini harus dibangun sendiri oleh anak berdasarkan realitas yang ada di alam, yang dibimbing atau difasilitasi oleh pendidik. Belajar alam dan sains merupakan suatu proses mencari tahu mengenai benda-benda, makhluk hidup dan berbagai fenomena atau kejadian alam untuk membangun pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, proses penemuan serta membangun sifat ilmiah.

Dalam dunia pendidikan alam dan sains merupakan wahana bagi anak untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran, belajar alam dan sains harus dirancang sesuai dengan kebutuhan, karakter dan kemampuan anak. Teknik didik permodelan sangat diperlukan untuk belajar alam dan sains. Manusia, hewan, tumbuhan dan berbagai kejadian alam yang ada di lingkungan anak itulah yang sebenarnya merupakan model untuk belajar. Anak harus diajak untuk mengamati obyek alam tersebut dengan panca inderanya sendiri. Dengan demikian pembelajaran akan terasa lebih bermakna.

Panca indera kita yang terdiri dari penglihatan (mata), penciuman (hidung), pendengaran (telinga), rasa (lidah) dan bentuk permukaan (kulit) dapat dikenalkan kepada anak melalui tumbuhan (alam) dan lingkungan sekitar. Terdapat, beberapa jenis tumbuhan yang dapat merangsang aroma penciuman kita (panca indera hidung), tumbuhan yang berwarna-warni dan berubah warna (panca indera mata) dan lain-lain.

Menagapa Perlu Belajar di Alam?

Hal ini karena didasarkan pada kebutuhan anak yaitu:

à Ketika diberi kebebasan, anak akan mencari tempat yang liar, sementara di zaman modern lingkungan anak menjadi urbanized.

à Terbatasnya kesempatan untuk bermain diluar ruangan menyebabkan childhood imprisonment.

à Pemeliharaan alam untuk kelangsungan hidup manusia dan membina generasi yang mencintai dan mau memelihara alam. Hal ini harus dimulai di masa kanak-kanak.

Bermain di/dari alam dapat mengembangkan potensi anak, dimana anak lebih mudah belajar karena melihat dan mengalami secara langsung. Lebih melekat dan belajar secara efektif. Mampu memancing keingintahuan anak dan melakukan eksplorasi untuk mencari informasi melalui buku, serta membangun minat anak untuk mempelajari lebih mendalam dan menjadi ahli dibidangnya.

Menurut Mayke S. Tedjasaputra (psikolog dan playtherapist), bahwa bermain di/dari alam akan dapat memaksimalkan kecerdasan natural, seperti skema berikut ini:


Aktifitas di/dari alam (karakteristik


Motor Skills


Harga diri                                                           Play Skills

Cinta                                                                 And Social Skills


Cognitive skills

Kemampuan perceptual

Ketajaman visual

Kedalaman/Figure Ground

Koordinasi mata-tangan

Higher Learning

Kepekaan terhadap lingkungan

Kecerdasan natural


Belajar di Alam (outdoor dan semi outdoor) merupakan metode belajar yang berpusat pada siswa. Metode belajar ini, menggunakan sepasang perspektif, yaitu fokus pada individu pembelajar (keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat, kapasitas, dan kebutuhan) dengan fokus pada pembelajaran (pengetahuan yang paling baik tentang pembelajaran dan bagaimana hal itu timbul serta tentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan tingkat motivasi, pembelajaran, dan prestasi bagi semua pembelajar. Fokus ganda ini selanjutnya memberikan informasi dan dorongan pengambilan keputusan pendidikan.

Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif anak ini berarti pendidik tidak mengambil hak anak untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada anak, maka anak memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan tertantang untuk melakukan eksplorasi atas rasa kepenasarannya, dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

Belajar di alam merupakan pembelajaran yang inovatif, kreatif, eksploratif dan imajinatif. Serta terpusat pada siswa (Student Centered Learning). memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari siswa. Metode-metode tersebut diantaranya adalah:

(a). Belajar dari pengalaman (experience based) dengan cara: simulasi, bermain peran (roleplay), permainan (game), dan cerita kreatif / dongeng.

(b). Pendidikan luar ruang (outdoor, semi outdoor dan outbound education), yang sarat dengan permainan yang menantang, mengandung nilai-nilai pendidikan, dan mendekatkan siswa dengan alam.

Agar penyampaian materi mencapai tujuan yang diinginkan, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan. Setiap tahap memiliki fungsi dan tujuan berbeda. Secara umum, tahapan tersebut adalah:

Ice breaking

Sebelum memulai lakukan teknik ice breaking untuk memulai pemanasan dan memecah kebekuan. Teknik ini penting untuk bisa merangsang rasa ingin tahu dan membangun konsentrasi anak karena kegiatan ini berfungsi sebagai sarana perkenalan antar peserta.

Materi / Antusiasme

Materi / antusiasme, merupakan pokok dan tujuan sebuah permainan itu dilakukan. Permainan ini menimbulkan keingin tahuan anak, atau untuk memberikan pengetahuan tentang alam kepada anak melalui permainan.

Misalnya pengetahuan tentang jaring-jaring kehidupan. Mahluk hidup di alam saling tergantung satu sama lain. Apabila salah satu terputus, maka kehidupan mereka di alam akan terganggu. Hal ini dapat ditunjukkan dengan permainan yang mudah dihayati oleh peserta. Masih banyak contoh permainan lainnya.

Evaluasi

Evaluasi dapat dilakukan dengan sebuah permainan juga. Misalnya membuat puisi, cerita/mendongeng, menggambar dan sebagainya. Hal ini dapat menjadi kenangan anak setelah kembali kerumah.

Sharing

Tukar pengalaman antara anak dan pendidik sangat penting artinya dalam sebuah pendidikan konservasi alam. Tidak semua anak mengetahui atau menemui sesuatu yang dianggap menarik Bagi mereka. Ada yang suka serangga, tapi ada pula yang suka dengan tumbuhan dan sebagainya. Untuk itu tukar pengalaman setelah kembali dari lapangan (arena outbound), tukar pengalaman ini diharapkan dapat menambah wawasan anak serta melatih kemampuan berbahasa dan motorik atau pengetahuan tentang kehidupan di alam.

Dengan belajar tentang alam dan sains anak bisa dikenalkan dengan pendidikan kecakapan hidup (life skill education). Dalam hal ini anak tidak hanya diajak untuk belajar mengetahui, mengerti dan memahami pengetahuannya mengenai alam. Tetapi siswa juga diajak untuk membiasakan diri (program pembiasaan) dalam menggunakan pengetahuannya itu untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti belajar bagaimana cara menggunakan, merawat dan melestarikan alam. Melalui pembelajaran alam dan sains yang terintegrasi dengan agama mampu membangun keyakinan siswa bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah sehingga mampu menumbuhkan pribadi yang selalu bersyukur.[]

 

 

Bahasa Lainnya

English Arabic Indonesian

Fasilitas

Login



Siswa Online

Statistik

Anggota : 43
Konten : 36
Jumlah Kunjungan Konten : 66618
You are here: Home Berita dan Cerita INTEGRASI ALAM DAN SAINS DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA TK